PROUD TO BE SOCIAL

                 


               Rasanya saya selalu merasa beruntung menjadi anak IPS, karena sebelumnya kelas IPS di sekolah saya menjadi sampingan atau di duakan. Tapi, this is my life, semua punya bakat masing - masing yang pada akhirnya pelabuhan saya sudah pada IPS, tapi sempet ngeeeh juga belum bisa memberikan nilai maximal pada setiap mata pelajaran pokok IPS, bahkan mata pelajaran tambahan pula. Tapi, apalah arti sebuah nilai sekolah?
                  Salah satu pelajaran IPS, yaitu Geografi , kemarin mengajak saya untuk berkeliling sebagian dari kota saya, Bojonegoro. Dua kelas IPS di sekolah saya berangkat dengan dua guru pendamping dengan angkutan kota kuning yang sejak pukul tujuh pagi sudah berjejeran berderet di samping trotoar sekolah. Walaupun dua tujuan wisata pendek ini sudah pernah saya singgahi, tapi saya tidak akan meninggalkan setiap detik kisah yang terjadi di wisata pendek ini. Kami mengunjungi Bendungan Gerak dan Wisata Belimbing Ringin Rejo. Gak terlalu lama kok untuk menuju wisata ini, dari bojonegoro kota cukup menuju ke barat kota Bojonegoro. Bahkan, dua tempat wisata ini sejalur. Jadi tidak perlu bolak - balik.
                  Suasana tampak berbeda ketika saya telah berada di Bendungan Gerak, dulu, awal saya datang kesini, suasana masih bersih, tembok - tembok belum di coreti oleh tangan - tangan jahil, dan belum banyak warung yang berjejeran di pinggir bendungan. Bendungan gerak yang dulu terasa indah tanpa ada coretan dan warung yang tidak rapi berjejeran. Tampaknya jika ini akan di biarkan, akan semakin merusak keindahan bendungan raksasa ini. Apa lagi jika penataan warung - warung disini tidak di tata rapi dan tidak dijaga kebersihan.
                  Ada satu sudut yang mengerikan ketika kita berdiri tepat di pinggir bendungan. Terasa ngeri apabila tiba - tiba kita terjatuh kedalam aliran bendungan itu. Apa lagi derasnya arus dari 2 pintu bendungan yang saat itu di buka. Ada lagi sudut yang cantik dari sisi lain bendungan gerak ini, ada di sebelah barat bendungan. Sungai yang mengalir dari percabangan bendungan, di tambah dengan pohon besar di seberang, memberikan efek yang tampak berbeda apabila setelah melihat itu kita berbalik arah melihat arah bendungan.
             


     
  
           Begitu telah puas menikmati panasnya terik matahari dengan suara deburan air bendungan yang persisi seperti deburan ombak, saya dan teman - teman melanjutkan perjalanan ke daerah Ringinrejo pusat Belimbing di Bojonegoro. Tak usah menunggu terlalu lama, saya dan teman - teman hanya menuju ke utara Bendungan Gerak hingga akhirnya sampai di Wisata Belimbimbing Ringinrejo.
             Saya kira tempat wisata Belimbing ini sama dengan tempat wisata yang waktu SMP dulu pernah saya singgahi dan tempatnya juga berdekatan dengan Bendung Gerak, namun ternyata berbeda. Sayangnya, saya belum tau secara spesifik dimana letak spesifik perbedaan nama tempat di keduanya. Ketika saya memasuki area ini, saya terkemuka dan baru menyadari bahwa kota Bonero (Bojonegoro) juga memiliki kebun buah sendiri. Tempat yang nyaman dengan parkiran yang cukup luas membuat tempat wisata ini semakin di minati banyak kalangan. Karena begitu saya memasuki area ini juga sudah ada rombongan lain yang mengunjungi tempat wisata ini dengan mobil pribadi dan menyewa kendaraan umum seperti saya.
          Kebun seluas ± 19.3 hektar di kelola bukan hanya sati orang. Kebun ini di buat petak - petak dengan setiap petaknya di kelola oleh masing - masing orang.  Saya benar - benar ngiler ketika memasuki are belimbing ini, kare rasanya ingin sekali memetik belimbing dan langsung memakannya dengan gratis. Seperti sewaktu SMP dulu, saya bisa puas makan belimbing tanpa bayar, walau sebenernya harusnya bayar. Tapi, di sini tampaknya gak bisa leluasa, mungkin boleh ambil gratis tapi cuma satu.
         Saat saya sedang menikmati bagaimana hijaunya kebun ini, tiba - tiba seorang ibu memanggil saya untuk melihat - lihat kebunnya, saya merasa enggan karena masih banyak kebun lain di sana yang mungkin harganya lebih murah. Tapi, ketika Ibu itu mengiming - imingi satu belimbing gratis saya jadi tertarik dan mengambilnya, dan memakannya dengan sangat nikmat. Teman - teman saya yang melihat saya menyangka saya asal ambil belimbing, haha, padahal juga ini di kasih. 
        Saya habiskan belimbing itu dan segera bergegas untuk menuju ke kebun lainnya. Yang mengkhawatirkan, ibu yang memberi belimbing tadi memanggil saya dan mengajak saya untuk membeli belimbing di kebunnya. Karena masih ingin melihat - lihat lainnya, saya pun mengatakan untuk nanti saja yang padahal enggan membeli, karena belimbingnnya terlihat kecil.
         Akhirnya saya membeli satu belimbing, satu kilonya sekitar delapan ribu rupiah, yang saya bayar hanya dua ribu rupiah karena patungan dengan teman saya. Sayangnya, saya teringat kembali dengan belimbing gratis yang aslinya iming iming buat beli, saya kawatir, gimana kalau kembali kesana, tiba - tiba orang nya inget saya dan ngejar - ngejar atau maksa untuk beli? Dari beberapa buku traveling yang pernah saya baca, jangan sekali - kali menerima iming - iming gratis dari seorang penjual, karena bisa saja itu jebakan pemaksaan untuk beli. Ketika kembali keluar dan melewai kebun ibu itu saya merasa cuek, ibu itu menawari kembali belimbingnya tapi untungnya bukan ke saya, tapi ke teman - teman saya. 
        Perjalanan singkat ini selesai jam sebelas siang, dengan rute pulang yang berbeda, yang awalnya lewat daerah jetak bojonegoro, pulangnya kami tidak melewati itu lagi. Kami berbalik kembali melewati jembatan bendungan gerak dan belok ke kiri terus sampai pada ujung jeda, kami melewati banjarjo.
       Waktu class meeting yang kadang membosankan, menjadi unik bagi kami, siswa - siswi IPS, karena sambil belajar kami bermain. STOP WORK LET'S TRAVELING





No comments:

Post a Comment

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!