BEBAGI JUTAAN NAFAS DI DONOROJO - JEPARA

                
                 Camp dua minggu. Saya tidak pernah melakukan camp selama dua minggu lamanya, baru kali ini, di kegiatan Volounteer yang diadakan Leprocy Care Community milik Universitas Indonesia di desa Donorojo Jepara. Jadi, sejak berangkat pun sudah bingung dengan barang bawaan. Tentang berapa saja baju yang harus di bawa selama dua minggu. Belum lagi bawaan kelompok yang harus dibawa, seperti piring yang harus dibawa meski sudah harus juga membawa tempat makan dan mangkok. Karena saya tipe yang gak suka ribet, sebenarnya males bawa itu semua, tapi kalau soal baju emang gak bisa di tawar. Kebersihan tetep nomor satu, jadi saya bawa baju sekitar enam baju dan tiga celana. Mereka semua berhasil masuk di tas Backpack saya setelah beberapa kali bongkar pasang. Namanya juga camp, jadi saya gak terlalu bawa baju yang formal. Kaos panjang celana panjang, udah cukup. Tas pinggang kecil pun menemani saya, mengingat saya suka teledor soal barang – barang kecil.
                Berangkat dari surabaya sekitar jam setengah sepuluh melalui stasiun kereta api Pasar Turi, saya dan kedua temen saya sempet was – was ketinggalan kereta, karena rhisman (Manusia Universitas Brawijaya asal Bau – Bau Sulawesi) sampai menit 20 keberangkatan belum juga datang. Skenarionya sepertinya selalu sama, bakalan ada satu yang terlambat, jadinya saya inget pengalaman ke Blitar yang telat dimenit kelima mau berangkat dan sialnya salah naik kereta. Tapi untung saja, perjalanan dari Surabaya ke Semarang ini benar – benar di lancarkan.
                Sampai di stasiun Poncol sekitar jam empat sore lebih beberapa menit, sudah ada temen satu camp juga, Mbak Iin (Penghuni Jurusan keperawatan Universitas Diponegoro) yang sudah menunggu dan siap jadi guide setengah hari kita.
                Kalau soal cerita selanjutnya, saya memilih untuk di skip aja deh, cerita selanjutnya soal jalan – jalan di semarang, yang entar di lanjutin di bagian setelah cerita ini. Singkatnya, setelah saya dan teman – teman menemukan penginapan, paginya kami bertemu dengan teman – teman dari Jakarta, Solo, dan kota lain di stasiun Poncol. Mereka semua terlihat ramai, dan masih asing di mata saya. Meski begitu perjalanan tetap berlanjut dengan bus yang mengantar kami sampai di terminal pinggir jepara sebelum Bus rumah sakit akhirnya mengantar saya sampai Donorojo.

                Ketika turun disebuah rumah yang dikelilingi pantai, sawah, dan pegunungan. Awalnya saya tidak mengira bila itu adalah rumah alias Base Camp atau villa yang akan kami tempati selama dua minggu. Rumah dengan dua kamar tidur, dua kamar mandi, lengkap dengan dapurnya itu berada di tengah dikelilingi oleh pemandangan yang setiap pagi, siang, sore, malam akan menampilkan penampilan yang berbeda. Ketika keluar di teras depan, pemandangan pantai akan menyapa dengan mesranya. Pantai Guamanik ini emang daerah wisata dan berseblahan juga dengan wisata benteng portugis.
                Dan setelah melihat keadaan basecamp, saya mulai meratapi dan memahami. Pantesan aja orang – orang ini pada bawa koper. Dan satu lagi, Cuma sendal gunung yang menempel di kaki, engga bawa sepatu, padahal dan karena baru tau, kalau dirumah sakit nanti harus pakai baju yang formal gitu, ya yang pasti bersepatu. Yaudah deh, gembel aja deh camp ini.. kan namanya camp.. ya kan?
                



                Saya suka basecamp ini, karena sudah terpasang rapi peraturan – peraturan selama camp. Bahkan di kamar mandi juga di atur gitu, setiap mandi harus nulis nama untuk antrian, dan maksimal 7 menit mandi. Awalnya memang benar – benar saling menghitung, tapi lama – lama juga enggak. Awalnya juga saya sempet bad mood karena banyak peraturan.
                Setelah makan siang bersama, sambil menyanyikan Camp Song (Sahabat Kecil – Ipang) yang selalu dinyanyikan sebelum makan, seluruh campers sebanyak 22 bersiap untuk keliling desa. Dari Basecamp, kami melewati kali semut sumber telu, lalu belok ke liposos, dan lanjut ke planggandul. Di sini ada desa rehabilitasi kusta yang letaknya sepanjang kali semut, sumber telu, dan planggandul. Dan ada juga Liposos yang tempatnya deket juga dan memang dalam kawasan kampung Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Perbedaan antara desa rehabilitasi dan Liposos, kalau Liposos dalam kawasan yang masih dibantu oleh dinas sosial dan rumah mereka juga dari rumah sakit. Sedangkan Rehabilitasi, untuk orang – orang yang sudah mandiri hidup, mereka diberikan tanah dan ladang untuk tinggal dan bekerja. Tanah dan ladang itu emang gak boleh dijual, hanya boleh disewakan. Bahkan kebanyakan pohon mangga yang mereka miliki, mereka sewakan.
                Berjalan dari basecamp menuju area kali semut, sumber telu, liposos, planggandul memang tidak dekat, kami menempuh jarak kurang lebih sekitar 2 Km. Meski lumayan jauh dan melelahkan, pemandangan sekitar memang bagus banget dah, kanan kiri sawah dan gundukan tanah, ditambah lagi, semilir angin yang kenceng banget.
                Ngomong – ngomong soal kusta, saya gak tau sama sekali soal kusta, well, saya tau kusta setelah baca di internet dan di Camp ini. Bagi orang – orang mungkin berfikir kalau kusta itu menular, iya bener memang menular, tapi camp ini berinteraksi ke Orang Yang Pernah Mengalami Kusta, artinya sudah sembuh, jadi tetep aman dan engga nular gitu. Mereka yang berada di kawasan liposos dan rehabilitasi ini, sudah mengkonsumsi obat kusta (MDT) selama 6 bulan berturut – turut dan sudah sembuh. Meski sudah sembuh, masih ada diskriminasi yang mereka terima, karena bekas fisik, seperti tangan yang putus, kaki yang luka, atau wajah yang mengerut tetap terlihat dan membekas. Kebanyakan orang mungkin gak mau berinteraksi dengan mereka. Dan saat saya keliling di desa ini, inilah pertama kalinya saya bersalaman dengan Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Saya sempet takut. Jujur takut banget. Pokoknya kalau temen saya salaman, saya ikut, kalau engga ya engga. Habis itu tangan kanan saya gak saya pakai untuk garuk – garuk wajah kalau gatel, atau menyentuh tangan kiri saya. Sebegitu takutnya pertama kali bertemu. Jarak beberapa hari pun saya masih parno, habis salaman selalu cuci pakai Handsinitizer (bener gak tulisannya? :3 ) , atau setelah itu pokoknya langsung mandi. Pertama kali saya di kasi makan ke mereka pun, saya sempet gak mau makan dan galau gitu, takut nular melalui alat makan dan makanan.
                Hari – hari selama dua minggu di Jepara Work Camp ini, dilalui dengan kegiatan yang padat banget. Setiap pagi ada morning excercise¸kegiatan olahraga pagi, setelah itu makan pagi dan lanjut  Workcamp atau Home Visit. Setiap harinya setiap kelompok akan diberikan kegiatan tergantung jadwal, ada yang work ada yang home visit atau ada yang jadi ibu bapak rumah tangga. Work disini, kita nguli gitu. Bersama – sama paving jalan dan membuat tanggul kecil. Kegiatan angkat pasir, angkat batu, mengaduk semen, jadi kegiatan rutin kalau Work. Biasanya sih dari jam delapan sampai jam dua belas. Kadang juga kebanyakan istirahatnya, soalnya bapak dan emak (sebutan untuk warga disini) suka banget nyediain makanan, pisang dari pohon langsung, dan kelapa hijau langung dari pohonnya. Di Liposo ada Pak Karim, Pak Suroso dan Emak Prih yang selalu nemenin waktu Work, rumah mereka seketika selalu ramai kalau kita lagi Camp.

                


                Kitchen Police (KP) adalah bagian yang paling ribet dari sekedar Home Visit dan Work, Kelompok yang kebagian KP harus tetep di Basecamp seharian. Harus bersih – bersih basecamp dan siapkan makan pagi, siang, sore. Kelompok saya berasa paling kerja rodi pas jadi KP, setelah makan pagi siap, harus siap – siap nyiapin makan siang, ditambah lagi bikin bubur sum – sum untuk sorenya kunjungan di rumah sakit. Yang hasilnya bubur sum sum gosong di bawahnya dan masih atos kata Mbah rumah sakit. Nah, pas makan siangnya, karena saat itu milih makan di teras depan pantai, gak tau deh kalau air kamar mandi belum di matiin dan lubang pembuangan mampet. Akhirnya,  basecamp banjir, dan kamar perempuan yang isinya tas campers perempuan harus di pindahin di depan, karena kamar juga banjir. Setelah itu, sorenya harus nyiapin tuh makan sore atau malam. Ternyata kesibukan gak berhenti, malamnya kita kedatangan pemuda – pemuda yang ngajakin rapat acara 17 Agustus, ditambah lagi ada kedatangan Emak dan Pak Suroso. Untung aja, KP sudah nyiapin bakwan yang otw di goreng. Hasilnya kita nyiapin untuk tiga kloter, kloter pertama rapat pemuda, kolter kedua ada Pak Suroso dan Pak Karim yang memilih didepan aja, dan Emak bersama Salma dan Risqia yang berada di dalam Base Camp. Tapi, karena bersakit – sakit dahulu, bersenang – senang kemudian, Kelompok saya pas KP ke dua, berasa santai banget, kita Cuma nyiapin makan pagi. Karena makan siangnya disipain dari rumah sakit dan makan malamnya dapat dari warga rehabilitasi. Pokoknya, KP bagian terakhir mau selesai Camp enak banget, karena dapat undangan makan makan dari warga. Dan pada akhirnya, kita nyerbu habisin stok makanan, padahal pas pertama kali itu berasa ngirit banget makannya. Beberapa nasi untuk 22 orang. Meski sama aja kenyang, karena setiap Home Visit dan Work dikasi makan juga sama warga.
                Kalau Home Visit, setiap kelompok dikasi foto kelompok camp tahun lalu yang foto sama warga. Kita wajib tuh datengin warga yang ada di foto itu. Amanahnya sih selama home visit bisa bantuin masak, nyuci baju, dan bantu – bantu yang lain. Tapi kenyataannya kelompok saya lebih banyak ngobrol sama mereka, menggali bagaimana cerita mereka. Beberapa dari mereka sudah hidup di kampung rehab ini semenjak tahun 45, bayangkan PKI masih ada dan mereka ada. Cerita soal pertama kali kusta juga macam – macam, karena jaman dahulu sosialiasi nya kurang soal kusta, mereka menganggap itu hanya panu biasa, atau bahkan itu santet. Sampai akhirnya mereka baru menyadari bahwa itu kusta dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Yang masih saya inget, soal terjadinya banyak cinta di rumah sakit. Kebanyakan dari mereka menemukan pasangannya di rumah sakit, sampai akhirnya menikah dan pindah ke desa rehabilitasi ini, memiliki anak – anak yang sehat – sehat, ganteng dan cantik. Btw, penyakit kusta ini bukan penyakit keturunan.
                Dari banyak hasil tanya – tanya saat home visit, Bapak dan Emak disana, kebanyakan nikah lebih dari satu kali. Mungkin karena keinginan untuk ada teman hidup dan keluarga. Kalau bahas soal keluarga, cerita emang panjang banget, dari ada yang gak diterima sama keluarga mereka karena mereka menderita kusta, tapi untungnya masih ada ko keluarga yang masih menerima. Keadaan kekerabatan didesa ini kalau saya bilang sih, agak mbulet gitu, misal nih Emak A punya suami Bapak B di Liposos, eh ternyata Ibunya Emak A juga tinggal di area Rehabilitasi, terus saudara Bapak B juga tinggal di Rehabilitasi, dan saudaranya lagi karena nikah sama orang sini juga, tinggal di sini juga, mbulet dah pokoknya. Kebanyakan dari mereka memilih untuk pek tonggo dewe, tapi ada juga anak – anak mereka yang memilih untuk mencari jodoh di luar saat bekerja. Ya karena kebanyakan dari warga disini bekerja di daerah semarang, pati, atau ada juga yang di rumah sakit donorojo. Pekerjaan mereka macam – macam, tapi ada satu hal yang sebenarnya miris, dari salah satu emak di donorojo, cerita kalau awalnya warga disni bekerja di wisata guamanik, tapi karena sudah diambil alih dinas pariwisata, mereka kehilangan pekerjaan, karena pekerjaan mereka malah dipakai sama orang dari luar donorojo, akhirnya ada beberapa dari mereka yang mengemis. Sungguh sebenarnya, saya gak tega nulis ini. Demi mencukupi kebutuhan, beberapa warga, gak semua kok melakukan itu.
                Gak semua juga mau pek tonggo dewe, salah satu Ibu dari rumah rehabilitasi Home visit  kelompok saya cerita kalo anaknya gak mau dapet jodoh daerah sini. Anaknya sadar, kalau tanah ini milik ruma sakit, dan suatu saat nanti bakal kembali ke rumah sakit. Makanya si anak ini kerja bagian pelayaran di luar jawa dan ngumpulin duit untuk bisa bawa ibunya keluar dari kampung rehabilitasi kusta ini dan tinggal di tempat baru.
                Tapi yang saya bingung sama desa ini, kadang itu ada Mbah yang tinggal sendirian di gubuk rumahnya, tapi tanah belakang luas banget, salah satu dari Mbah yang saya wawancarai, punya sawah yang dikasi rumah sakit, dan disewakan satu tahun tujuh juta, bahkan, seperti yang saya kasi tau diatas tadi, soal pohon mangga yang disewakan, Mbah satu ini menyewakan pohon mangganya dua tahun dua ratus ribu. Setiap mangga panen akan ada si penyewa yang mengambil mangga di pohon Mbah nya itu dan dijual ke pasar, yang jauhnya kurang lebih 30 menit dari Donorojo. Murah banget memang sewanya, tapi Mbah satu ini ngaku kalau dia panen beras beberapa ton, dan berasnya dipakai sendiri. Hmm cukup menarik sekali desa ini, dengan beraneka ragam manusia.  
               







                Selain tiga kegiatan tadi, ada juga nih Education Program dan lomba 17an.
                Keduanya sangat menguras keringat, walaupun Education Program masih mendingan lah, tapi ya sama aja butuh kesabaran. Menghadapi anak – anak kecil masih TK sebanyak lebih dari sepuluh orang bikin geregetan dan harus pinter – pinter menggaet hati mereka. Disni saya benar – benar belajar untuk berinteraksi dengan anak – anak. Anyway, mereka suka bernyanyi, pokoknya kalau disuruh ngapa – ngapain pakai nyanyi pasti bakal dilakuin.
                ADIK ADIK BUANG SAMPAH YA
                “kalau ketemu sampah, di ambil di buang, dibuang nya kemana? Ketempat sampah” sambil nyanyi
                ADIK ADIK BERDOA YUK
                “tangan kanan kedepan kebelakang, depan belakang, lalu goyangkan, lalu berputar, lakukan seperti ini, blablabla...”

                ADIK ADIK BERBARIS YA
                “Naik kereta api tut tut....siapa hendak turun...”

                Btw, saya ngerasa play list saya nostalgia kelagu anak – anak setelah berinteraksi dengan mereka. Anak – anak ini juga anak dari Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Mereka cantik dan sehat semua kok, ada satu anak kecil yang enggak bisa saya lupain. Namanya Safira, dia tinggal ternyata sama tantenya, saya kira ibu yang selalu memboncengnya setiap pulang sekolah adalah Ibunya. Ternyata, Ibu kandungnya sudah cerai dengan ayahnya dan memutuskan untuk kerja di Malaysia dan menitipkan Safira dengan tantenya yang juga Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Safira pinter banget deh nari, dia emang belom hafal gerakan tari remo, tari gambyong atau tari apapun. Tapi dari setiap gerakan joget saat lagu dangdut berputar, tubuhnya udah keliatan banget mengisyaratkan gemulainya dia.


                Anak – anak kecil nya lucu – lucu dan pinter – pinter, gak kalah dong sama pemudanya juga. Disini ada kumpulan pemuda Mitra Bhakti, saya gak terlalu hafal sama nama pemuda – pemuda disini. Inget cuman Mas Andreas doang, soalnya dia juga yang jadi seperti leader nya gitu pas 17an. Mereka masih muda muda loh, badan mereka emang bongsor, tapi usianya masih sekitar 18,19,20 an. Dan kompaknya pake banget. 17an kemarin aja mereka yang nyiapin bambu gede tinggi gitu buat panjat pinang. Terus kalau ada apa – apa pemuda ini siap dan tangguh untuk bantu. Kata Mas Eas, biasanya pemuda disini juga bantu mbah mbah yang mau ke rumah sakit, ya kan ada warga juga yang kakinya sudah diamputasi, atau memang lagi luka. Atau ya pasti kalau sudah sepuh kan gak mungkin jalan sejauh 1km lebih untuk kerumah sakit. Ya gitu lah, pemuda – pemuda disini suka bantu bantu gitu. Biasanya sore gitu mereka main voli di lapangan deket TPQ (tempat education program).


                Hal yang bikin saya selalu sedikit menghindar, sebenarnya adalah rumah sakit. Iya salah satu Home visit itu ada di rumah sakit, dan kita ngunjungin pasien inventaris. Pasien ini sudah sembuh dari kusta tapi karena memang gak ada keluarga lagi mereka tinggal disini. Gak tega, sungguh liat mbah mbah nya ini, makanya aku selalu menghindari. Apalagi pas kemarin bantu nyuci baju, sungguh... saya sendiri sulit mendefinisikan untuk yang dirumah sakit. Gak tega mendefinisikan keadaan tangan kaki, tubuh, fisik, jiwa dan raganya. Gak tega. Gimana kalau ngomongin soal keadaan rumah sakit nya? Runyam memang, beberapa hari lalu saya bertemu dengan beberapa petinggi rumah sakit dan mereka berbicara soal perbaikan kompetensi rumah sakit, tapi ngomong – ngomong saya aja miris liat ruangan yang tempat tidur mbahnya sudah rusak, keadannya gak nyaman gitu. Susah lagi untuk didefinisikan. Tapi sepertinya bagaimanapun keadaaanya, ini tempat ternyaman bagi pasien inventaris, karena enggak ada lagi tempat berteduh. Engga ada lagi yang mau menerima selain di rumah sakit donorojo ini.
                Dua minggu yang begitu panjang di Donorojo ini, bertemu dan berkenalan dengan orang – orang yang sangat baru dengan berbagai macam kisah. Dibalik tempat wisata guamanik yang megah, tersimpan kampung rehabilitasi kusta di baliknya. Tersimpan seribu kisah manusia dari segala daerah Indonesia yang harus tinggal di kampung rehabilitasi setelah menjalani pengobatan.

                .......... Hapuskan Diskriminasi Terhadap Orang Yang Pernah Menderita Kusta......  



4 comments:

  1. Keren belle...makasih udah mau jadi partner selama 2 minggu itu. sukses selalu :)

    ReplyDelete
  2. Ka boleh minta alamat email Kaka, saya penasaran sama desa sumber telu, ada banyak hal yang saya mau tanya sama Kaka

    ReplyDelete
  3. Ka boleh minta alamat email Kaka, saya penasaran dengan desa sumber telu..

    ReplyDelete

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!