Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta


Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta

Ini belum bertahun-tahun, masih tujuh bulan berjalan, tapi aku beranikan untuk menulis ini karena banyaknya kemudahan yang Allah berikan. Selalu insecure adalah hal pertama yang selalu aku rasakan setiap kali buat tulisan di blog. Tapi nampaknya prinsip tulis aja dulu harus selalu di terapkan. Jadi, mari kita berbincang tentang Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta.

Bujangan aku sebut disini sebagai seorang laki-laki ataupun perempuan yang belum menikah.


Perkenalkan dahulu, aku adalah Nabilah. Teman-teman banyak memanggil aku dengan berbagai nama. Bebel adalah panggilan dari Izda temen SMP-ku yang akhirnya semua teman-teman SMP bahkan SMA ikutan manggil, bibil adalah panggilan dari teman ku mahmudi, Arum adalah nama tengahku dan guru SD ku suka pangil dengan nama ini, orang-orang memanggil aku Zahrina bila melihat daftar nama, Abel adalah namaku saat siaran radio. Tapi sebenarnya sejak lahir, aku di panggil dengan sebutan Bela. Nama yang pernah aku sesali kenapa gak double L, karena bella artinya cantik. Tapi,  pelan-pelan aku mulai suka. Tahun 2016 hingga ke atas, aku mulai memperkenalkan diri dengan sebutan Nabilah untuk memudahkan manusia-manusia mengingat namaku, karna tertulis di nama lengkap  dan, yah gak jauh banget dari nama Bela. 

Aku adalah manusia yang suka pindah-pindah tempat tinggal. Dari kecil ini emang cita-cita aku. Makanya dulu kok ya suka bilang pengen nikah sama orang luar negeri. Jadi setelah SMA, aku pergi ke Surabaya untuk menempuh kuliah sarjana Ilmu komunikasi di Univeritas Airlangga. Setelah lulus, aku sempat satu bulan di Pare Kediri, dan hidup terombang-ambing antara Surabaya-Bojonegoro sebagai pemburu pekerjaan. Akhirnya, Juli 2018 aku ditempatkan oleh Allah di Jakarta. 
Sebagai manusia yang bujangan, alias belum menikah, tentu saja aku tidak banyak memiliki pertimbangan. Hanya orangtua aja yang jadi pertimbangan, karena ridho Allah bergantung ridho orangtua. Bapakku termasuk yang susah dijelaskan kalau pekerjaan itu bisa freelance, bahkan enam bulan setelah sidang saja aku sebenernya bekerja freelance sebagai penulis dan admin sosmed (kerennya sih social media specialist). Akhirnya, aku suka mempertimbangkan juga bila ingin memilih pekerjaan, intinya aku harus keliatan kerja. Dan, bagi Bapak PNS adalah pekerjaan yang membahagiakan, So, I have to fight for PNS! Hidup PNS! Oke baiklah, sepertinya aku skip dahulu untuk cerita soal perjuangan setelah kuliah. Mari kita lanjutkan tentang ceritaku Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta.

Pada intinya aku akhirnya diterima bekerja di salah satu lembaga negara yang setara dengan posisi Presiden, MA, dan MK dan berada di posisi Social Media Specialist. Untuk Travelblogger, komentar di bawah kalau kamu mau req aku cerita soal pekerjaan ini. Bukan PNS, tapi pekerjaan tenaga kontrak. Karena lembaga negara, tentu saja aku hidup di Jakarta. Meski aku tadi bilang aku sangat suka hidup berpindah-pindah, tapi perasaan sedih, setres, galau adalah sindrom yang selalu hadir setiap kali aku akan melakukan perpindahan. Menjadi manusia nomaden memang agak susah, aku akan ceritakan di tulisan selanjutnya tentang hidup sebagai manusia nomaden. Bukan di sini, nanti dahulu, biar aku ceritakan tentang Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta.

Lima paragraf di atas adalah permulaan untuk cerita tentang Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta. Maaf kepanjangan, tapi tulisan ini akan sangat panjang.


Travelonyet Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta

Tahun 2018 saat menginjakkan kaki di Jakarta menurut aku adalah fase untuk banyak belajar. Kehidupan sebagai bujangan di Jakarta sangat diberkahi dengan berbagai hal positif yang aku bisa dapatkan di Jakarta. Pertama adalah kajian dari ustadz yang biasanya cuman bisa aku dapatkan di youtube, sekarang aku bisa mengikutinya setiap hari rabu. Meski tempatnya jauh dari Jakarta pusat, aku selalu relakan untuk datang. Mungkin bagi kamu yang bukan islam, kamu akan meremehkan tulisanku dikalimat sebelumnya. Tapi bayangkan saja, acara-acara seperti seminar, kegiatan pengaktualisasian diri seperti belajar digital marketing, pemasaran, social media, komunitas jalan-jalan, yang semuanya itu adalah my passion juga bisa aku dapatkan di Jakarta. Tantanganya cuman satu, menyingkirkan mood malas berangkat. Jakarta bagi seorang bujangan adalah tempat untuk belajar, mendekati para ahli dan mendapatkan banyak relasi. 
Banyak orang-orang kantor yang selalu penasaran dengan apa yang aku lakukan setelah hari jumat pulang kantor, atau setiap hari setelah pulang kantor. Bagi mereka yang sudah menikah, tentu saja akan sibuk dengan keluarga, lalu bagaimana dengan Nabilah? Di empat bulan aku di Jakarta, aku segera mendaftarkan diri untuk mengambil les IELTS di LBUI. Pemilihan ini juga aku sesuaikan dengan budget dan keadaan bahwa kantorku sangat dekat banget dengan Universitas Indonesia di Salemba. Di sini aku mengenal berbagai macam manusia yang memiliki tujuan yang sama untuk IELTS. Lingkungan ini akan sangat sulit aku dapatkan di kantor. Jadi sebagai bujangan, jadwal setelah pulang kantor untuk hari Senin adalah nyuci baju, Selasa untuk les di LBUI, Rabu untuk kajian di BLOK M, Kamis untuk les di LBUI, Jumat sore untuk belajar pemasaran digital, Sabtu dan Minggu akan aku gunakan untuk bertemu dengan teman-teman, aku akan memilih salah stau hari. Bila Sabtu aku pergi keluar, Minggu akan aku gunakan untuk tetap di kos. Sebagai bujangan yang sangat menikmati membaca buku dengan secangkir teh dan pisang goreng, satu hari di rumah sangat aku butuhkan. Jadi itulah yang aku lakukan setelah pulang kantor. Nah, masalahnya setelah selesai les di LBUI, Nabilah ngapain? Jadwalku akan tetap, setiap pulang kantor aku gunakan untuk menulis blog, belajar IELTS dan pemasaran digital. Kadang di weekend aku juga mengambil kelas singkat seperti seminar yang bakal banyak banget di temukan di Jakarta. Sebagai perempuan bujangan, aku sangat senang sekali belajar. Rasanya aku akan sangat malu bila aku nantinya menjadi ibu dan istri yang stupid. Naudzubillah! Perempuan itu harus smart! Penasaran cara bagaimana aku belajar setelah selesai kuliah? Klik ini! dan  subscribe dahulu ya agar tidak ketinggalan informasinya.

Jakarta itu tempat yang sangat strategis untuk kemana-mana. Mau ke Bogor -Tanggerang-Depok, tinggal naik KRL aja dengan jam kapanpun yang bisa kamu temukan sampai hampir tengah malam. Jadi kehidupanku sebagai bujangan di Jakarta ini diwarnai dengan mbolang ke Bogor, Tanggerang, Depok dan Jakarta sendiri. Mau ke luar negeri-pun juga mudah, semua rute internasional dengan promo selalu dimulai di Jakarta. Jadi hidupku sebagai bujangan yang suka traveling sangat aku manfaatkan untuk mencoba tempat wisata baru, tempat makanan baru, yang semuanya aku tulis di Blog dan youtube. Intinya aku selalu menantang diriku untuk setelah bersenang-senang harus susah, harus berbagi, entah lewat apapun. Oh iya, aku jarang banget loh ke mall ataupun bioskop, meskipun di Jakarta emang banyak banget, kos aku aja deket dengan mall, tapi aku selalu menghindari, karena ada yang lebih indah daripada mall.

Main ke IKEA nya Indonesia, klik di sini!

Sebagai bujangan di Jakarta, aku akui aku tidak bisa dijadikan percontohan untuk mengatur uang. Sebagai pekerja kontrak yang masih probation (entah sampe kapan), harusnya aku sudah menabung minimal tujuh juta lah ya, tapi aku emang tipe orang yang gak bisa mikir buat diri sendiri. Entah apapun  itu yang aku dapet, aku selalu lebih nyaman untuk buat orang lain bahagia. Ini bukan ria' ya, semoga jadi bahan pembelajaran bujangan lainnya, terutama orang Jawa. Nabung itu harus prioritaslah, kalau bisa sih investasi sekalian. Tapi ya itu, jangan lupa shodaqoh. Jadi, untuk hidup sebagai bujangan di Jakarta dengan gaji diatas UMR sebenarnya sangat mudah banget untuk masalah finansial, mungkin ya kamu harus kirim ke orangtua, sisanya tinggal dibagi-bagi gimana baiknya. Cuman aku akui, sebagai bujangan yang tinggal di Jakarta diawal bulan aku kerja aku kurang memanajemen uangku untuk masalah makanan.

Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta


Hidup sebagai bujangan di Jakarta menurutku untuk masalah tempat tinggal, aku lebih memilih untuk tinggal deket kantor. Aku emang bukan tipe perempuan yang harus tinggal di tempat yang bagus banget. Aku sederhana aja, sepanjang kamarku gak sempit, kalau bisa ada jendela yang bisa bikin matahari masuk, dan ada kipas angin. Sebagai manusia minimalis, aku juga gak perlu barang-barang yang banyak. Uangku lebih senang aku gunakan untuk banyakin stempel di paspor dari pada banyakin barang di kamar. Meja yang emang sangat dibutuhkan, aku ganti dengan kardus. Ya gitu deh, karena prinsipku seperti ini. Beda lagi kalau nanti aku tinggal berkeluarga, mungkin akan berbeda, karena hidup gak sendiri lagi, ada orang lain yang juga butuh kenyamanan.

Cek Kos Murah di Jakarta!

Nah, hidup sebagai bujangan di Jakarta dengan karakter manusia seperti aku yang emang sebenarnya gak bisa hidup sendirian emang agak susah ya. Walaupun aku terbiasa sejak SMA makan sendirian di kantin, terbiasa ikutan kelas tanpa harus nunggu ada temennya, dan terbiasa menghadapi semuanya sendiri. Tapi semua itu cuman kulitnya, jauh dari itu, terutama Ibuk sangat memahami bahwa anaknya gak bisa hidup sendiri. Jadi, sebagai bujangan yang hidup di Jakarta, setiap hari aku selalu telpon bapak-ibuk, hampir setiap hari video call, dan untuk masalah pulang kampung, waktu awal-awal aku selalu sebulan sekali pulang. Pokoknya kalau aku sudah gak semangat lagi di kantor, aku harus pulang untuk mengisi amunisi. Keseringan pulang juga jadi penyebab aku susah ngatur uangku. Tapi aku gak pernah nyesel karena untuk  ketemu bapak-ibuk.

Hidup sebagai bujangan di Jakarta, menurutku harus kamu rasakan paling tidak sekali seumur hiduplah. Atau kamu bisa coba untuk tinggal jauh dari orang tua. Merasakan rindu yang hebat, dan bagaimana orang tuamu sangat berarti, tak terhingga lebih dari pacarmu yang kamu idam-idamkan. Mulai sekarang bila kamu masih tinggal sama orangtua, dan ibukmu suka masak, please jangan tinggalkan masakan ibumu, karena aku jarang bisa rasakan masakan ibuk untuk bekal ke kantor. Kalau setiap harinya bapakmu sms kamu, balaslah dengan bahagia, karena cintanya selalu tulus buat kamu. Hidup sebagai bujangan di Jakarta mengajarkan aku banyak hal tentang kemandirian, kepercayaan, mempertebal imanku, dan menamparku untuk menyiapkan hidup di masa mendatang. Pemikiranku yang dulu cuman buat jalan-jalan, sekarang udah berubah dengan mulai menabung menikah, beli tanah, beli rumah, dan segala kebutuhan untuk bahagiakan bapak ibuk juga.

Baca juga: Makanan Khas India di Bogor

Hidup sebagai bujangan di Jakarta versiku nampaknya memang super dipermudah banget dengan keadaan lingkungan tempat tinggal deket sama halte transjakarta, makanan murah dimana-mana, ke kantor cuman jalan aja 15 menit, deket sama PMI, deket rumah sakit, deket sama kantor polisi, deket sama Universitas Indonesia Salemba, deket sama Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir, deket sama Monas, deket sama mall juga. Hidup sebagai bujangan di Jakartaku sangat dipermudah sama Allah.  Semua itu gak terlepas dari doa dan ibadah yang harus didahulukan lebih dari apapun. Dan yang gak ketinggalan sih, doa bapak ibuk dan keluarga yang selalu menyatu.

Kalau ini cerita versi ku, bagaimana dengan cerita versi travelbuddies?
Yuk tulis di kolom komentar bawah, bagaimana hidup sebagai bujangan di Jakarta versimu.



4 comments:

  1. Enak ya aksesnya kmna2 mudah. Meski kalo di berita cuma macet dan panaaaaas. Mungkin itu yg banyak dipikirkan anak muda ttg bekerja di Jakarta. Akses serba cepat dan mudah. Rencana akan berlama2 di jakarta?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Travelbuddies, salam kenal!
      Iya nih gak selamanya tinggal di Jakarta itu panas dan macet. Walaupun sata ini enak, rencana gak tinggal di Jakarta berlama-lama juga, mending dapat kerja dan menikah di area yang masih membahagiakan untuk keluarga. Back to Surabaya maybe :)
      Oh iya yuk klik htpps://bit.ly/Travelonyet klik subscribe youtube ya

      Terimakasih travelbuddies

      Cheers
      Nabilah

      Delete
  2. jakarta kota yg kompleks. buat yg ekonomi low sampe high..semua ada tersedia.
    btw..kalo boleh kasih masukan...dlm 1 alinea sebaiknya jgn terlalu panjang isinya. dipecah aja jd bbrp alinea

    ReplyDelete
  3. Halo belaaaa. Masih bujangan? 😊😜

    ReplyDelete

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!