Traveler's Perspective : #10YearsChallenge Kenapa Aku Gak Pilih Pacaran

Travelbuddies!
Edisi kali ini sebenarnya akan sangat sulit untuk bisa aku publikasikan. Karena bagiku untuk hal-hal soal pacaran aku lebih suka ditanya langsung sambil minum teh tarik dan roti canai. Nah beberapa hari ini setiap kali aku membuka instagram rasanya aku sedang minum teh tarik dan roti canai sambil melihat foto-foto teman-teman yang ikutan #10YearsChallenge. Momen ini menurut aku malah buat atmosfer untuk saling menonjolkan perubahan yang dilihat secara fisik. Dari pada nonjolin fisik, aku lebih memilih untuk nonjolin isi otakku dan cerita soal perubahan sudut pandangku selama sepuluh tahun ini tentang pacaran. Tulisan #10YearsChallenge Kenapa Aku Gak Pilih Pacaran, aku tulis melalui perspektifku sebagai muslim traveler.

Pesan-Pesan Cinta Untukmu - arief rahman lubis - travelonyet

dis·claim·er, tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan kode kesiapapun dan runtutan ceritanya sengaja tidak diceritakan detail.

Sepuluh tahun lalu aku adalah anak SMP berkulit hitam, gelap, tinggi bongsor dan super gendut. Yah siapapun teman SMP ku pasti taulah aku seperti apa. Isi otakku saat SMP adalah impian memiliki pacar kakak tingkat yang sama tinggi dan manisnya seperti aku. Beruntungnya aku dikelilingi oleh banyak teman-teman di SMP yang selalu buat aku bahagia dan punya geng tetap satu kelas. Jadi, aku gak terlalu gusar meski mengidamkan pacar impian. Kerennya sih aku gak pernah iri walaupun kebanyakan mereka udah punya pacar. Aku masih tetap jomblo sampai akhir SMP (SMA-Kuliah-Sekarang haha). Allah nampaknya melindungi aku dari segala macam godaan, karena dari SMP kelas satu sampai SMA kelas tiga, bahkan semester empat kuliah, aku gak bisa move on dari kakak tingkat SMP sekaligus tetanggaku yang aku kagumi. 
Sepuluh tahun lalu, perspektifku untuk cowok ganteng adalah yang berkulit sawo matang, tinggi, suka bawa kamera kemana-mana alias fotografer, pinter editing video dan foto. Sepuluh tahun lalu aku suka cowok yang suka olahraga, kuat tahan banting, anak paskibraka yang gagah berani. Karakter itu nempel semua di tetanggaku. Kok ya pas dia adalah manusia paskibraka, suka fotografi dan desain, duh kuliahnya sejurusan sama aku pula. Dia manis dan selalu aku nantikan kehadirannya setiap lebaran karena cuman saat itu aja, semua orang di komplek rumah keluar dan aku bisa ketemu sama dia. Bahkan sampai detik ini aja aku belum pernah ngobrol diatas 10 detik dengan tetangga yang (dahulu) aku idam-idamkan itu.

#10YearsChallenge untuk masa-masa sepuluh tahun yang lalu aku lewati dengan bertemu dengan banyak orang, jangan dikira aku gak berpindah kelain hati. Tapi ya karena aku ini hitam dan gendut, mana ada yang mau. Jadi, jatuhnya aku selalu kembali ke tetangga manis itu. Kalau banyak perempuan langsung ganti penampilan, lucunya, aku gak pernah pusing untuk mengubah penampilanku. Sejak SMP sampai kuliah semester lima aku masih konsisten dengan gaya khas tomboyku, kulit sawo matangku yang eksotis gak pernah aku risaukan karena aku suka. Aku cuman akan sangat heboh kalau kulitku kusam, banyak jerawat, dan aku gendut. 
Sepuluh tahun lalu aku sering mengeluh sama Tuhanku, tentang aku yang gak punya pacar sampai aku kuliah semester lima. Well mungkin pernah seminggu pacaran tapi maafkan bila tidak aku anggap. Saat bertemu teman SMP saja, aku sampai gak bisa hitung masing-masing mereka sudah ganti pacar berapa kali, sedangkan aku masih stay tune dengan tetangga manis yang aku selalu pertanyakan kenapa Allah gak deketin aku sama doi. Aku mengeluh kenapa aku gak dikasi pacar yang bisa anterin aku pulang-pergi kuliah (haha ojek dong), nemenin aku makan di kantin kek, atau bisa jadi patner jalan-jalanku. Duh, #10YearsChallenge ku begini banget ya.

Sepanjang sepuluh tahun yang lalu aku selalu marah sama Allah, karena yang deketin aku selalu yang gak aku inginkan. Yang beda agama, yang adek kelas, yang gak gak gagah seperti yang aku inginkan. Well, Aku bukanlah manusia cupu, kegiatan banyak yang aku ikutin, dan aku sudah melakukan perjalanan yang bisa dibilang kemanapun, tapi kenapa ya, Allah gak pernah kasi aku satu aja dahulu yang pas nyantol sama aku.

Baiklah, cerita #10YearsChallenge mulai berubah pada saat aku menginjak semester enam, kehidupan kuliahku kebanyakan dikelilingi manusia berwarganegara asing. Dan akhirnya, aku bisa move on  dari tetangga manisku, lalu melewati jalan berliku dengan seseorang berumur delapan tahun diatasku, tinggi gagah, berkulit hitam macam karakter utama Black Phanter. Aku gak bisa cerita banyak, tapi intinya Pria Muslim Afrika ini mengubahku dari banyak hal, mulai dari cara berpakaianku yang gak cuek lagi, sudut pandangku tentang islam, caraku berfikir untuk lebih dewasa, dan untuk pertama kalinya karena dia aku bisa lebih leluasa bercerita dengan orangtuaku tersayang.

Baca juga: Belajar Adalah Alasan Aku Suka Traveling

Aku menyebutnya sebagai suatu hal yang karena Allah melalui Pria ini, aku menemukan titik kehidupan. Kita gak pacaran, tapi kami bisa dibilang dekat. Kedekatan dengan pria yang sudah dewasa mau gak mau membuatku gak bisa main-main. Tujuannya dia adalah menikah, dan bukan pacaran. Aku yang saat itu masih ingusan ini gak tau apa-apa bro soal menikah. Akhirnya setelah melalui segala macam pergolakan badai, Allah membawaku ke kelas menikah yang aku ikuti dalam masa dimana aku lagi ngerjain skripsi. Kelas ini mampu mengubah seluruh sudut pandangku.

Wisuda Kelas Nikah

Sepanjang sepuluh tahun lalu dimulai tahun 2010, aku mengidamkan lelaki yang manis, pokoknnya harus tinggi karena aku gak mau laki-laki pendek, dan memiliki profesi di bidang media, oh ya ditambah lagi bule berkulit hitam eksotis. Sepuluh tahun setelah itu, saat ini di tahun 2019 aku lebih memilih Pria yang menggunakan celana cingkrang, berjanggut, penghafal Al-Quran, rajin olahraga, rajin menjalankan ibadah sunah dan selalu punya jadwal mengikut majeis ilmu. Tinggi atau pendek itu bukan jadi patokan utama lagi. Fuih! Jauh banget ya sama kriteria sepuluh tahun yang lalu. 

Dahulu aku sangat khawatir soal aku tidak memiliki pacar, tapi sekarang aku tahu bagaimana Allah melindungi aku disegala kesempatan. Aku mulai memahami kenapa sampai sekarang Allah tidak pernah menginjinkan aku untuk dekat dengan tetanggaku itu. Bahagia banget pokoknya!

Baca juga: Kenapa Aku Masih Suka Kirim Surat Cinta

Jangan dikira gak banyak godaan. Sebagai manusia yang suka jalan-jalan, banyak loh kesempatan untuk bisa pacaran sebentar sama manusia-manusia luar Indonesia yang sering kecantol sama kulit eksotisku dan kecerdasanku yang kata ibu berbeda dengan yang lain, hehe. Saat pergi ke Jepang, satu manusia Afrika jatuh hati sama manusia sepertiku, tapi ya kali aku gak segampang itu. Pokoknya aku bersyukur banget Allah selalu menyelamatkan aku dahulu.

Akhirnya, mission completed untuk #10YearsChallenge. Aku yang sepuluh tahun yang lalu menargetkan untuk punya pacar saat sudah bekerja, tapi kali ini aku sangat tidak berminat. Aku lebih memilih jalan baik yang sudah dipilihkan oleh agamaku yaitu dengan ta'aruf. Well, aku akan cerita soal berbagai pengalamanku soal ta'aruf kalau aku sudah menikah saja. Mungkin karena aku juga manusia yang super independen, aku gak mau buang waktuku untuk seseorang yang gak jelas dia adalah future husband atau bukan. Aku lebih memilih saat ini untuk menyibukkan memantaskan diri dan belajar banyak hal, melakukan perjalanan kemana aja, seperti yang aku ceritakan dalam tulisan Hidup Sebagai Bujangan di Jakarta

------

Tulisan ini hanya sekedar pendapatku dari hasil perjalanan selama sepuluh tahun ini. Mungkin kamu punya pendapat berbeda, dan aku sangat menghormati itu. Bagaimanapun, aku sangat bahagia punya pengalaman sepuluh tahun lalu sebagai perempuan manis berkulit hitam yang selalu jadi raksasa dirumah. Sampai pada titik ini, lagi-lagi aku sungguh bersyukur, karena doa-doa yang selalu kuharapkan untuk berada dilingkungan manusia baik ternyata sungguh berdampak untuk sepuluh tahun kedepan dan itu di masa kini.

8 comments:

  1. Tetep yah ... masalah wanita terbesar adalah kulit kusam, jerawat dan berat badan😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello Travelbuddies!
      Thank you for visiting this blog!

      Ya dong kak :)
      But I love my tan skin soo much^

      Cheers,
      Nabilah

      Delete
  2. "Aku lebih memilih jalan baik yang sudah dipilihkan oleh agamaku yaitu dengan ta'aruf"

    Semoga istiqomah dah menemukan jodohnya ya Kak :)

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah jadinya tetap aman dari godaan pacaran di jaman umur masih labil.

    Mana kita tau, teman kita udah sukses ngapain aja sama pacarnya kan ya?

    Alhamdulillah masih dijaga dan semoga terus istiqomah mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Travelbuddies!
      Aaamiin thank you mba

      Cheers,
      Nabilah

      Delete
  4. Kereenn banget, meskipun ngakak juga baca kisah 10 tahun lalu, ngakak karena saya jadi ingat masa abege dulu, pun juga ngakak, duh ya betapa kau masih sangat muda, dibanding saya tentunya wkwkwkwk

    Semoga istiqomah dengan taaruf ya, salut banget saya, dengan zaman yang semakin modern, tapi gak mau ikut2an arus hidup yang bebas tak terbatas.

    semoga diberi jodoh yang terbaik yaaa aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Travelbuddies!
      Terimakasih doanya,
      semoga allah juga memudahkan jalan kakak untuk apapun itu

      Cheers,
      Nabilah

      Delete

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!