12 Rakaat Dhuha dan India

Travel Buddies apa kabar?

Masih dengan edisi India yang sampai kapanpun aku gak bisa move on, selain karena India butuh di eksplore lebih dalam, tapi juga karena Onyet ini belum jalan-jalan lagi ke tempat lain selain Jakarta yang saat ini jadi tempat tinggal Onyet sementara, dan kota-kota sepanjang Jawa yang sering dilewati Kereta Api. Cerita yang aku tulis ini sebenarnya bakal aku bikin sebuah buku gitu soal traveling, tapi nampaknya dari pada kelamaan OMDO baiknya segera ditulis daripada lupa.

Photo by Minesh Patel on Reshot

Ini semua berawal dari duit yang tiba-tiba menyusut entah aku lupa buat apa. Tabungan sepuluh juta yang udah disiapkan gak tau kemana. Keberangkatan ke India banyak diwarnai dengan cobaan, dimulai dari sakit setiap bulannya, jatuh tergelincir dari Jembatan Penyebrangan Orang, sampai dapat rate mahal untuk tuker duit padahal udah nunggu tiga jam lebih ditambah kehujaan saat Jakarta sedang panas-panasnya.



Semakin galau karena dapet rate mahal sedangkan butuh duit yang lebih banyak untuk ke India, akhirnya aku inget tentang ibadah yang dilakukan untuk memohon rejeki. Aku percaya aja karena dari kajian-kajian yang aku ikuti semua itu sudah terbukti. Baiklah, dengan bekal percaya bahwa Allah pasti mengabulkan doa hambanya, akhirnya mulailah aku melakukan ibadah tersebut.

Photo by Arifuddin Rahmad on Reshot


Akhirnya aku mencoba untuk dua belas rakaat dhuha. Saat takbir awal, aku mencoba untuk fokus memohon ampunan dan tentu saja tujuannya agar Allah berikan rejeki. Rakaat kedua aku masih fokus, rokaat keempat dan keenam semuanya blur, pikiran lain seperti sakit hati dapat rate tukar uang ke rupee yang mahal dari pada umumnya, sampai kepikiran aku besok setelah ke India makan apa. Aku berkomat-kamit doa tanpa makna. 

Besoknya aku mencoba untuk fokus dua belas rokaat. Sajadah dari laundry yang masih wangi lumayan bisa membuat aku semangat untuk sholat. Tapi, rasanya perutku masih lapar. Baiklah aku putuskan dua rakaat dahulu setelah itu aku makan cemilan dan minum air putih agar tetap segar. 

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Salam terakhir aku ucap,namun otakku ingin segera minum air putih dan nyemil. Mungkin gak ada lima detik aku sudah meraup makanan roti sari roti yang kemarin kubeli, habis termakan, dan haus. Bodohnya aku lupa beli air. Mau gak mau, otak memerintahkan untuk mengambil ponsel untuk chat Pak Galon agar segera mengirim air minum. Tau sendiri kan? Bagaimana sinkronisasi keinginan dan otak yang susah untuk diajak fokus. Niatnya adalah chat pak galon, tapi sampai satu jam akhirnya aku malah asik untu nonton instagram story yang berakhir iri dengki melihat manusia-manusia tertawa dibalik layar kotak itu.

Baiklah, kamu bisa bayangkan bagaimana sholat onyet di rakaat selanjutnya. Dengan penuh dosa, perut kosong, dan tenggorokan kering, aku mencoba untuk segera sholat melanjutnya sepuluh rakaat lainnya. 

Hari ketiga aku batal Sholat Dhuha dua belas rokaat. Dua rokaat pun enggak! Aku sibuk untuk print kertas boarding pass dari website Air asia yang sedari awal tiba-tiba eror. Astaqfirullah!  Masih gini aku tetep ngotot gak mau Sholat Dhuha dua belas rakaat. Ditambah tiba-tiba ada panggilan untuk bantuin temen keluar. Astaqfirullah! Nyebut berulang kali tapi tetep aja gak sholat.

Akhirnya malam hari keempat, sehari sebelum keberangkatan aku akhirnya ke rental lagi deket kosan. Ngapain kalau gak cetak booking hotel yang dibawa untuk jaga-jaga dihadapan pihak imigrasi. Malam-malam aku datang kesana, nyamperin Abang-Abang yang sampai hafal karena cuman itu tempat buat print. Gak murah, mahalnya minta ampun. Gak bisa bayangin kalau aku print thesisku disini. 

"Nab..."

Photo by Musiena • on Reshot
 Photo by Musiena • on Reshot

Tiba-tiba seseorang menyapaku di whatsapp. Temen se-geng yang udah gak se kota lagi.

"Nab kamu jadi ke India? Aku ada rejeki nih, kirimin no rek kamu ya".

Masyaa allah! Aku malu tau gak sih sama Tuhanku. Lihat aja bagaimana aku melakukan ibadah. Tapi Allah masih sangat sayang banget dan ngasi rejeki yang tidak terduga dari jalan yang gak pernah aku kira. Teman se-geng tiba-tiba aja ngasih duit untuk mbolang ke India.  

Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan



****


1 comment:

  1. Pengelana yg mendapat rejeki dari tempat yg tak di duga duga yaa belll :D aku sangat terkagum sama tulisan mu bell :)))

    ReplyDelete

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!