Kesalahan Nama di Visa India Part I

Aku sungguh membenci flight pagi. Selain aku harus gugup bangun sangat pagi agar tidak tertinggal flight, aku juga secara random mencari Grab Car dan Go Car, yang belum tentu mudah didapatkan. Yah meskipun aku sekarang tidak bisa mengelak bahwa tempat tinggalku dekat dengan Stasiun Gambir yang tersedia Bus Damri menuju Bandara Soekarno Hatta.

Kak Isabel sudah siap dengan kopernya dan tas kantorku yang sengaja ku pinjamkan karena tidak ada lagi tas yang enak untuk dibawa. Sedangkan aku seperti biasa sudah menenteng tas backpack Eiger berwarna hitam yang atasnya tersedia perekat- bukan resleting. Tas ini sudah lama menjadi sahabatku untuk berpergian, karena sebelumnya kasus yang hadir adalah resleting rusak akibat overload. Aku sangat bersyukur memiliki tas yang desain penutupnya tanpa resleting.

Kesalahan Nama di Visa India

'Kita OTW yaa...'

Kukirim pesan ke group traveling India dan sesegera mungkin kumatikan ponselku untuk menghemat batrei. 


Suasana jalanan menuju bandara masih belum begitu ramai. Aku dan Kak Lita menikmati jalanan dengan matahari Jakarta yang masih sedikit tersimpan dibalik awan subuh. Sekitar empat puluh menit kemudian mobil kami sampai di Bandara Soekarno Hatta. Ucapan terimakasih ke bapak Grab sekaligus menjadi ucapan selamat jalan untuk kami pula yang akan menuju ke India.
 

Sampai di counter check in, mata kami celingukan karena ini pertama kalinya aku terbang dari Jakarta ke luar negeri, sebelumnya aku terbiasa melalui jalur Surabaya. Sedangkan Kak Isabel, sepengetahuanku dia sudah cukup sering bolak balik Indonesia-Timor Leste melalui Jakarta, tapi masih saja kami berdua sama-sama bingung dimana arah check in.

Kesalahan Nama di Visa India
 Photo by 3happytails on Reshot

Seorang petugas milik maskapai Air Asia nampak bersedia membantu manusia-manusia seperti kami. Akhirnya ku tunjukkan boarding pass Kak Isabel yang telah ku print out semalam yang sayangnya nomor paspor dan nomor duduknya tidak tertera. Jadi ini sebenarnya permalasahan kami. Petugas Air Asia meminta kami untuk cetak boarding pass lagi dengan mesin otomatis check in. Kami pun menuju kiri counter check in yang sudutnya nampak mencolok merah. 

"Coba kak sebutin nanti aku ketik" Pintaku ke Kak Isabel.

Setelah menyebutkan angka dan hurufnya, bagian monitor tidak menunjukkan informasi bahwa penerbangan kami ada. Karena gugup akupun kembali ke petugas dan meminta tolong untuk mengecek. Namun petugas langsung saja mengarahkan kami ke counter check in. Batinku ngapain tadi cetak boarding pass lagi. 


Ku tarik Kak Lita, dan baru kusadari bila ponselku mati, setelah beberapa teman lainnya tiba-tiba menyapaku, melambaikan tangan. Tentu saja aku kegirangan di bagian antrian counter check in, melihat teman-temanku sudah datang. Pikirku aku tinggal menunggu tiga teman laki-laki yang juga ikut dalam rombongan kami.

Senyum ceriaku berbalas ekspresi kegundahan diwajah mereka. Mbak Tina menghampiriku dengan ekspresi gundah.

"Visa Kak Dew namanya salah, Air Asia gak berani berangkatin dia"

Sontak saja aku-pun kaget. Bagaimana mungkin nama nya salah tapi sudah diterima oleh pihak India. Perasaan jadi makin kalut, belum lagi tiket Kak Lita yang juga belum selesai kami perbaiki.

"Kak Lita juga nih, kertas check in dari web gak keluar nomor paspor dan kursinya"




Kesalahan Nama di Visa India

Akhirnya ku minta Kak Isabel untuk menunggu sambil mengantri ke counter check in, sedangkan aku bergabung dengan Mbak Tina dan lainnya yang sepertinya sedang perang dengan pihak Air Asia. 

Baiklah akhirnya ku hampiri mereka dan memahami akar permasalahan yang terjadi. Ternyata namanya benar tapi berulang. Jadi misal nama sesungguhnya adalah Dew Safitri, di VISA yang dikeluarkan pihak India bertuliskan Safitri, Safitri Dew. Sedangkan di kertas boarding dan paspor bertuliskan Safitri, Dew. Safitri sebagai nama belakang dan Dew sebagai nama depan. Kesalahan nama berulang dipermasalahkan oleh pihak Air Asia.

"Kertas ini ya mbak, bayangkan ini itu seperti kalau mbak ketuk pintu aja. Belum tentu diterima masuk ke negaranya". Tegas Pak petugas Air Asia. "Sekarang terserah mbak-mbak nya mau gimana, mau lanjut ya silakan, tapi saya gak jamin bakal diterima. Ya kalau di Malaysia diterima gak taunya di India gak diterima masuk. Ya Mbak terpaksa harus beli pesawat paginya untuk balik ke Indonesia".


Kami berlima mulai cenut-cenut di kepala, untungnya permasalahan Kak Isabel sudah terselesaikan soal nomor paspor yang tidak tertulis di boarding pass. Setidaknya kami tinggal berfikir fokus ke Kak Dew bagaimana solusinya.

Setelah berperang dengan pihak Air Asia, kami pun ijin permisi karena berdebat dengan petugas ini bakal tidak ada hasilnya. Mbak Tina dan Mbak Tini rela menyerahkan pulsa di ponselnya untuk mencoba menelpon call center yang terteta di website Pemerintah India untuk pendaftaran Visa. Mbak Peb dan lainnya sibuk mencari jalan keluar dengan bertanya ke Google. Masing-masing dari kami sibuk mencari jalan keluar. 

Aku mencoba menghubungi pihak call center tapi yang tertinggal hanya pesan otomatis yang tersambung dengan Bahasa Inggris khas India yang semakin gak jelas diantara keramaian bandara ini. Solusi selanjutnya adalah meminta teman dari Couchsurfing yang sering kujadikan tempat untuk hal-hal soal India. Kumar dan Saud, diantara mereka satu-satunya harapan untuk menghubungi pihak call center India menggunakan nomor India mereka. Tidak bisa secepat itu. Jam saat itu masih pukul enam pagi, sedangkan di India dua orang itu pasti masih tidur.

Kesalahan Nama di Visa India

Kami berenam berunding. Memeras otak dan mencari jalan tikus sambil berdoa kepada Yang Kuasa agar diberikan jalan keluar. Pokoknya harus bisa sampai di India bersama-sama. 

Jam sudah mendekati waktu boarding. Kami berenam sepakat untuk maju jalan terus, dan yakin pasti bisa diterima Imigrasi India. Kekuatan itu hadir karena setidaknya Kak Dew sama-sama mengantongi selembar kertas E-Visa yang telah tertulis gurantee dari pihak India. Meskipun namanya tertulis dobel disana. 


Kak Lita berbaris di bagian warga negara asing. Sedangkan kami berlima terpisah diibagian WNI. Formasi kami siapkan agar Mbak Tina maju duluan, lalu Kak Dew maju kedua ke pihak counter imigrasi, dan tiga dari kami berbaris di belakang. Rencananya bila ada satu yang sudah maju duluan di imigrasi, proses akan cepat, karena pihak imigrasi sudah memahami kami satu rombongan. Harapannya nanti Kak Dew gak usah ditanya-tanya lagi, dan nama dobel di visa tersebut bisa tak terlihat. Selain itu, kami juga berharap dengan Kak Dew maju duluan mengantisipasi bila ditolak, kami bertiga yang dibelakang bisa mundur bersama untuk merencanakan startegi lain. 

Kesalahan Nama di Visa India

Tantangan pertama untuk menghadapi imigrasi Indonesia berhasil! Paspor Kak Dew berhasil di cap dengan lancar. Kami bertiga yang dibelakang dapat sedikit bernapas legas, begitu juga dengan Kak Lita dan lainnya yang sudah mendahului. Terlihat diseberang tiga geng laki-laki yang ternyata sudah melalui imigrasi dan tentu saja belum mengetahui permasalahan kami.

Kami terus mencari cara sambil mempersiapkan segalanya menatap tantangan selanjutnya. Imigrasi Malaysia.

*Bersambung*

Baca cerita selanjutnya: Kesalahan Nama di Visa India Part II

No comments:

Post a Comment

Thank you! Feel Free to ask travelonyet!